google.com, pub-2032731931779399, DIRECT, f08c47fec0942fa0

"Tuk" Teater Lingkar Masuk Pondok Pesantren Al-Ishlah Meteseh

Naskah Tuk oleh Teater Lingkar. Foto: Basa Basuki
MENIKMATI tontonan teater dengan naskah Tuk karya Bambang Widoyo SP oleh Teater Lingkar di Pondok Pesantren Al-Ishlah Meteseh Tembalang Kota Semarang. Acara bertajuk Tour De Kampung Teater Lingkar diawali di Pondok Pesantren yang diasuh KH. Budi Hardjono. Sebuah naskah realis yang menceritakan perkampungan atau tempat tinggal di tengah kota, Minggu, 27/11/2016.

Basa Basuki mengatakan  dengan mengusung lakon "Tuk" karya Bambang Widoyo SP, drama realis yg bercerita tentang masyarakat miskin kota (desa), garapan sutradara Maston Lingkar, menjadi hiburan para santri Pondok Pesantren Al Ishlah Dr. KH. Budi Hardjono.

"Pertunjukan apik mas Budi Bobo, mas Wiwik, mas Suprih, dan aktor~aktris senior Teater Lingkar yang tetap istiqomah di jalan teater. Salut untuk Maston Panglima Teater Lingkar," lanjutnya

Saat melihat pertunjukan dengan lighting sederhana dan garapan yang cukup apik membuat suasana tetap nyaman dan menarik. Namun menyisakan persoalan tersendiri meski Maston Lingkar diakhir acara mengucapakkan permohonan maaf oleh karena naskah Tuk bercerita tentang pinggiran kota sehingga sering kali muncul dialog yang negatif atau tidak sopan.


Foto: Daniel Hakiki
"Sebenarnya teater masuk kampung sangat baik jika memang benar-benar masuk kampung, tapi sayang sekali ini diawali masuk pondok pesantren yang pada dasarnya pesantren adalah lembaga pendidikan dengan naskah Tuk sering kali terjadi dialog yang negatif, umpatan-umpatan atau pisuhan," ucap Lukni Maulana.

"Cocok sekali jika di Pondok Pesantren misalnya mementaskan Naskah Sekolah Unggulan karya Prie GS, sebagaimana kita ketahui Teater Linggkar sering mementaskan naskah tersebut," lanjutnya

KH. Budi Harjono sangat mengapresiai tontonan teater oleh Teater Lingkar Semarang. Tak segan-segan Kiai yang akrab dipanggil Kiai Budi ini memperagakan tarian sufi. (Pondokbanjar)