![]() |
| Foto: Kegiatan Pondokbanjar di Koran Barometer. Ngaji Budaya; Pembaca Puisi: Artvelo Sugiarto, Windu, Fransiska Ambar Kristiyani. Pembicara: Supardi, Agus Munif, dan Lukman Wibowo |
BERITA yang belum diketahui kebenarannya
atau sekarang diistilahkan dengan berita “hoax” mudah menyebar di media sosial.
Korban hoax tidak pandang bulu, bisa saja menimpa pejabat, orang berpendidikan
tinggi maupun tingkat kecerdasannya. Melainkan tergantung pada kepercayaan
mengenai suatu informasi atau berita tersebut.
Bagaimana mengetahui dan mendeteksi berita yang
penuh dengan kebohongan tersebut?
Pertama, mengklarifikasi berita. Agama Islam
mengajarkan kepada kita sebuah doktrin yang ketat dari informasi hoax.
Sebagaimana Allah Swt berfirman: ”Wahai orang- orang yang beriman, jika ada
seorang fasik datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka
tabayunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya
pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal
atas perlakuan kalian.” (QS. Al-Hujurat : 6).
Menurut Quraish Shihab ayat di atas merupakan salah
satu ketetapan agama dalam berkehidupan sosial. Hubungan dan interasi sosial
harus didasarkan pada hal-hal yang diketahui dan jelas. Segala informasi harus
kita saring, jangan sampai salah langkah memberikan atau membagikan informasi.
Kedua, memiliki kemampuan memeriksa
informasi dan kemampuan mengetahui rekayasa konflik. Dukungan kemampuan membaca
dan mengevaluasi serta kemampuan kritis kita dalam menangkal informasi hoax.
Sehingga kita membangun karakter kedirian kita berupa mengasah kemampuan
intelektual dan integritas.
Ketiga, Information verificator. Yakni salah
satu cara terbaik mengetahui sumber informasi berita hoax tersebut. Salah
satunya yakni dengan menanyakan sumber berita tersebut, bisa ke pihak redaksi
maupun mencari sumber resmi yang berkompeten.
Keempat, membandingkan informasi. Yang dimaksud
di sini adalah melatih kita untuk mencari berbagai macam informasi di dunia
maya atau internet dengan cara membandingkan. Supaya kita memiliki kemampuan
untuk menyaring dan menganalisa.
Kelima, sumber berita. Informasi berita di
media online yang menyebar di jejaring sosial tentu ada sumber berita, sumber
berita bisa jadi di akhir tulisan maupun pemberi berita ataupun media pemberi
berita tersebut. Sehingga kita dapat membedakan berita dengan opini yang
sifatnya pribadi. (Pondokbanjar)

