google.com, pub-2032731931779399, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Inilah Sinci atau Papan Arwah Gus Dur: Penghormatan Tertinggi Etnis Tionghoa Kepada KH. Abdurrahman Wahid

1286 HAUL GUS DUR
Saya berdiri kikuk di atas panggung; di hadapan saya duduk para alim ulama, pak Kyai, pak Haji, pengurus pemuda ormas keagamaan terbesar di tanah air serta tamu undangan terhormat lain. Saya memakai baju putih tanpa krah lengan pendek dan sarung kotak-kotak kecil warna hijau gelap. Ada tulisan mandarin di dada sebelah kiri.

Saya menyapa hadirin 'Selamat Malam' dan 'Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh', dan saya minta maaf karena usai bicara saya harus meninggalkan acara. Mendadak ada kerabat yang masuk ke rumah sakit. Saya merasa ewuh kalau-kalau giliran bicara saya di'dlusup'kan, didahulukan.
"Enggak kok, Pak. Ini memang pas giliran sampeyan...," sahut MC dari bawah panggung.
Saya mengangguk dan mulai bicara.
"Jujur saat masuk ruangan dan mendengar apa yang dikatakan, apa yang didoakan dan dinyanyikan, saya merasa ayem, saya merasa tidak asing. Meski dilihat dari 'casing' saya, saya jelas Tionghoa...," ujar saya.
Semua tertawa.
"Saya juga bukan Muslim. Tapi saya merasa nyaman. Bukan sekedar kata-kata diucap, tapi bahasa tubuh yang disampaikan, membuat saya merasa diterima. Apalagi tadi ada (yel-yel) NKRI HARGA MATI...!"
Saya mengepalkan tangan, semua bertepuk tangan.

Saya melanjutkan, "Dengan suasana seperti ini, saya merasa punya sedulur. Saya merasa jadi bagian dari bangsa ini. Saya pernah kuliah lima tahun di Amerika, tapi saya lebih nyaman di Indonesia. Wong ngimpi saja pakai Bahasa Jawa..."
Kembali semua tertawa.
"Saya suka steak dan spaghetti, tapi saya juga suka pecel, makan pakai tangan, nasi panas dan sambel pedes! Persis sampeyan semua, kalau makan harus kempringet!"
HªHŪHÁª.

Saya menyapukan pandangan ke seluruh ruangan yang dipenuhi wajah-wajah ramah dan santun, wajah-wajah alim ulama dan pemuda-pemuda memakai atribut jas hijau dan loreng-loreng.
Saya melanjutkan bicara, dengan nada serius, "Terus terang saya tidak pernah ketemu Gus Dur. Saya tidak mengenal Gus Dur..."
Sepercik penyesalan menelusup.
"Saya mengenal Gus Dur melalui peristiwa-peristiwa. Saat Gus Dur gerah, kami dari komunitas Tionghoa Semarang menggagas doa bersama untuk kesembuhan Gus Dur bersama Pengurus Nahdlatul Ulama. Acara kami adakan di atas kapal di Kelenteng.
Keharuan menyeruak.
"Komunitas Tionghoa sangat menghormati Gus Dur. Bahkan komunitas Tionghoa Semarang pernah menganugerahkan gelar 'Bapak Tionghoa Indonesia' kepada Gus Dur..."
Semua bertepuk tangan.

Saya meneruskan.
"Di Perkumpulan Boen Hian Tong, salah satu perkumpulan Tionghoa tertua di Semarang, kami meletakkan Sinci, atau Papan Arwah bertuliskan nama Gus Dur sebagai wujud penghormatan tertinggi etnis Tionghoa kepada sosok yang dianggap berjasa..."
Kembali ruangan dipenuhi suara tepuk tangan.
"Dan di Sinci tertera tulisan 'Yin Hua Zhi Fu, Fu Ruo Guo Zhi'..."
Semua tertawa.
"Aku ki ngapalke sewenginan," timpal saya.
Semua kembali tertawa.
"Artine opo, Pak?," tanya MC.
"Artinya 'Bapak Tionghoa Indonesia, Guru Bangsa, Pendukung Minoritas'...!," jawab saya penuh haru, bangga.
Semua bertepuk tangan.

Saya meneruskan, "Saat Gus Dur seda, orang-orang Tionghoa pergi ke kelenteng-kelenteng, bersujud dan berdoa. Tanpa disuruh, tanpa diminta..."
Semua terdiam, seakan menekuri sosok Guru Bangsa yang sudah tiada, yang pemikiran dan sikapnya senantiasa menunjukkan kedalaman cintanya pada kehidupan, pada bangsa dan negara, serta ketinggian spiritualitasnya yang melampui sekat etnis dan agama.
"Gus Dur telah mengajarkan pada kita semua - makna Nasionalisme, Kebhinekaan, dan ini yang terpenting, Kemanusiaan..."
Semua bertepuk tangan.
"Saya bangga Indonesia pernah punya Gus Dur..."

Lalu saya membacakan puisi yang ditulis oleh putri bungsu Gus Dur di acara Peletakan Sinci ayahnya di Altar Utama Perkoempoelan Sosial Boen Hian Tong, Semarang, 24 Agustus 2014:

"Ini adalah kisah tentang lelaki tua
Yang hidupnya bahkan tak pernah dimiliki seutuhnya
Hidup milik Tuhan
Kita cuma perlu menjalankan

Ini kisah seorang lelaki tua
Yang cara mencintai Tuhannya dengan menjaga dunia
“karena tidak mungkin Tuhan akan mencintai kita, kalau yang kita ciptakan hanya penghancuran bagi ciptaannya” katanya lirih, sambil membetulkan letak sarungnya

Inilah kisah lelaki tua
Yang begitu mencintai Tuhannya,
dia tak punya pilihan selain membela manusia
“Bukankah, manusia wujud terbaik ciptanNya”
kembali lirih katanya, kali ini sambil membetulkan letak peci rotan di kepalanya yang bertuliskan Presiden Republik Indonesia

Bukan…ini bukan kisah manusia adikuasa kebal senjata, membela keadilan, dalam komik seharga 20,000,-an
Ini murni kisah seorang lelaki tua
membela keadilan dengan merawat  yang lemah dan terluka
Yang meyakini bahwa berjuang berarti berada bersama mereka yang tak punya suara
Yang percaya bahwa kesejahteraan berarti kekuatan bagi petani, Nelayan, buruh dan pedagang.
Dan bukan soal menambah deretan angka rekeningnya.

Bukan… ini juga bukan soal epos pahlawan digdaya
tubuh tegap, senjata di tangan  siap pasang kuda-kuda
Berjaya di medan laga, menumpas musuh-musuhnya

Ini cerita sungguhan, tentang si lelaki tua
Yang tubuh ringkihnya kerap jatuh tersandung
akibat pandangannya yang tak sempurna

Baginya medan laga adalah soal pertempuran melawan ego manusia
Menolak mengikuti nafsu kuasa,
ketika dirinya terlontar dari kursi jabatan,
dari mulutnya selalu keluar kata-kata yang sama
“di atas kekuasaan, haruslah kemanusiaan”
“di atas kekuasaan, haruslah kemanusiaan”
“di atas kekuasaan, haruslah kemanusiaan”
“di atas kekuasaan, HARUSLAH KEMANUSIAAN”

Dan baginya menumpas amarah musuh tidak dapat dilakukan dengan kebencian
Membuka hati dan  memaafkan
adalah kunci utama

Sekali lagi ini bukan soal manusia super yang mampu membaca pikiran,
dengan intelegensia tingkat dewa
Jadi mata-mata
menumpas penguasa dunia yang gila

Ini sekali lagi-lagi soal lelaki tua yang percaya dengan sepenuh hati bahwa kecanggihan pikiran harus berakhir dalam pengabdian
Menguatkan dan mengantarkan
pada kedamaian.

Ini kisah tentang seorang lelaki tua yang percaya, pada akhirnya perbedaanlah yang meyatukan semua
Dan kesetaraan adalah soal mengangkat dan bukan menjatuhkan

Dan ya, inilah cerita tentang lelaki tua
Yang tubuh lemahnya mungkin sudah habis dilumat cacing tanah
Mungkin cuma tinggal kerangka, mungkin juga sudah musnah
Entah jadi kompos, atau menguap,
lenyap
moksa

Tapi namanya terseru jadi satu
dalam helaan nafas manusia-manusia
yang dibelanya
Namanya melebur,
macam bubur,
melalui bibir
Jutaan manusia dalam rapalan doa dari mereka
yang sudah merasakan cintanya.
Wujudnya melesap
dalam sesak kebaikannya yang memanjang berantai
dari lantai hingga pantai
Menuju tinggi lalu landai

Dan dialah si lelaki tua
Yang begitu mencintai Tuhannya
Dan tak bisa lain selain mencintai manusia..."

Semua terdiam. Semua ingatan berkelindan, mengenang sosok humanis bin pluralis nan kerap dianggap kontroversial.
"Gitu aja kok repot," itu selorohnya yang acap dianggap meremehkan.
"Itu bukan meremehkan, itu adalah bentuk kepasrahan...," ujar seorang Kyai di awal sambutan.
Saya manthuk-manthuk. Saya ingin meralat pernyataan saya di awal. Memang benar saya tidak pernah ketemu Gus Dur, tapi saya yakin saya mengenal 'Gus Dur'. Sangat mengenal. Karena Gus Dur adalah Kemanusiaan. Karena Gus Dur adalah Keniscayaan.

Desember 2017 (Sumber: Harjanto Halim)