google.com, pub-2032731931779399, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tahun Baru dan Pribumisasi Islam Ala Gus Dur di Kampung Pondokbanjar

Suasana nonton bareng film Sang Kiai. Film tentang biografi KH. Hasyim Asyari.
DI KAMPUNG PONDOKBANJAR ini tahun baru disambut oleh segenap warga masyarakat. Tahun baru dirayakan, baik tahun baru “Masehi” maupun “Hijriyah” atau tahun Islam. Tahun baru masehi kali ini ada beberapa agenda warga masyarakat Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang yakni 1. Pembacaan Tahlil dan doa, 2. Program kampung taun 2017, dan 3. Nonton bareng film Sang Kiai.

Jika menilik agenda kegiatan tersebut, kampung Pondokbanjar warga masyarakat  Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang berusaha apa yang di wacanakan KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa kita kenal dengan panggilan Gus Dur. Wacana tersebut adalah konsep “Pribumisasi Islam” sebuah pemikiran yang memberikan solusi dalam menghadapi problematika sosial masyarakat Islam di negara tercinta, dengan membumikan ajaran-ajaran agama Islam sesuai konteks kearifan lokal masyarakat.

Gus Dur mengatakan bahwa sesungguhnya pandangan hidup Islam adalah mengakomodasikan kenyataan-kenyataan yang ada sepanjang membantu atau mendukung kemaslahatan rakyat, tidak memandang rakyat yang beragama Islam atau non-muslim. Dalam hal inilah, toleransi atau pluralisme Gus Dur terlihat, di mana beliau benar-benar menghargai, menghormati dan memperjuangkan kepentingan umum tanpa memandang perbedaan latar belakang, agama, suku dan daerah.

Pribumisasi Islam menjadi wadah rekonsiliasi Islam dengan kekuatan atau kearifan lokal masyarakat setempat, agar nilai-nilai budaya lokal itu tidak hilang. Di sini pribumisasi dilihat sebagai kebutuhan, bukannya sebagai upaya menghindari polarisasi antara agama dengan budaya setempat.

Islam seharusnya tidak menampilkan diri dalam bentuk eksklusif, tetapi mengintegrasikan kegiatannya dalam kegiatan bangsa secara keseluruhan sehingga akan menjadikan Islam sebagai etika sosial. Ajaran agama Islam merupakan kekuatan inspiratif dan juga kekuatan moral yang membentuk etika masyarakat.

Maka ajaran agama bersama dengan tradisi lokal harus mampu merumuskan masa depan masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, kearifan lokal yang berdasar pada tradisi dan ajaran agama Islam sangat tepat untuk dijadikan landasan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

SELAMAT TAHUN BARU 2017
Pos Kampling Banjardowo Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang

Sabtu, 31 Desember 2016