google.com, pub-2032731931779399, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Islam Kita Karena Wayang: Spanduk Wayang Bukan Budaya dan Ajaran Islam

Foto: Spanduk Wayang Kulit Bukan Budaya dan Ajaran Ummat Islam
BEBERAPA hari ini masyarakat dan pengguna media sosial baik di Twitter maupun Facebook digemparkan dengan beredarnya spanduk perlawanan budaya. Spanduk tersebut bertuliskan, “Wayang Kulit Bukan Budaya dan Ajaran Umat Islam.”

Bagaimana pandangan Lukni Maulana pegiat Pondokbanjar yang berfokus pada Rumah Budaya dan Pesantren Futuristis. Berikut ini akan kami sampaikan pandangannya:

Bagaimana pandangan anda tentang beredarnya spanduk tersebut?
Jelas ini merupakan provokasi yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk memperkeruh keadaan. Baik keadaan secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan dan bahkan cara keberagamaan kita.

Provokator, apa yang hendak ingin disampaikan?
Ya…pastinya dilakukan oleh provokator, sudah terlihat jelas siapa pemasang spanduk tersebut yakni seorang pemuda.  Tentu hal ini harus diusut oleh pihak penegak hukum, karena sudah ada bukti yang menjelaskan. Provokator tersebut hendak mempecah belah rasa persatuan dan kesatuan bangsa ini. Oleh sebab isu agama merupakan alat yang mudah digunakan untuk media provokasi.

Sedangkan tentang keberagamaan?
Saya yakin mereka “umat Islam” mungkin dari kelompok tertentu belum berani ke ranah provokasi ke masyarakat dengan menggunakan spanduk semacan itu. Apa lagi wayang, yang merupakan tradisi kebudayaan kita. Pada ranah kearifan lokal berbentuk tradisi seperti Yasinan dan tahlilan, pembacaan manakib dan berzanji maupun tata cara beribadah aja mereka belum berani semcam itu, keberanian mereka hanya pada ranah media, pengajian, maupun majlis-majlis dan itu sah karena mereka juga memiliki jamaah tersendiri. Tentu masyarakat akan sakit jika wayang dianggap bukan budaya Islam, lha Islam kita tidak dapat dipungkiri karena wayang.

Bisa dijelaskan Islam kita karena wayang?
Kita harus tahu bahwa ada tokoh namanya Walisongo atau Wali Sembilan yang merupakan pelopor masuknya Islam di Jawa. Cara dakwah mereka tentu menggunakan media, salah satunya yakni melebur dengna kebudayaan, baik seni suara, maupun seni karawitan dan tentunya wayang kulit. Media tersebut yang digunakan tentu tidak secara mentah-mentah digunakan, melainkan dibesut lebih dahulu dengan keindahan dan daya tarik, selanjutnya baru bagaimana menananmkan nilai-nilai ajaran islam terhadap hasil dari kebudayaan tersebut.

Siapa pelopor utama dakwah dengan wayang?
Pelopor tersebut adalah Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari Walisongo. Pada waktu muda bernama Raden Said atau Jaka Said, putera Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Sedangkan tahun kelahiran Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan sekitar tahun  ± 1450 M.

Melalui dakwah dengan menggunakan wayang kulit inilah kemudian Sunan Kalijaga menjadi tenar dikalangan masyarakat tradisi. Ia memiliki kecakapan bergaul, dan sikap toleransi yang sangat tinggi. Sunan Kalijaga sangat berjasa bagi perkembangan agama Islam dan perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia, terutama kebudayaan wayang.

Sejarah perkembangan wayang tidak lepas dari peranan Sunan Kalijaga. Wayang di dalam masyarakat Jawa sebelum agama Islam berkembang telah menjadi sebagian dari hidupnya, dan di dalam dakwah, Sunan Kalijaga menjadikan wayang ini sebagai alat atau media demi suksesnya dakwah Islam.

Begitupun Sunan Kalijaga terhadap kesenian wayang dipandang sebagai tokoh yang telah menghasilkan kreasi baru yaitu dengan adanya wayang kulit dengan segala perangkat gamelannya. Wayang kulit merupakan pengembangan baru dari wayang beber yang memang sudah ada sejak zaman Erlangga. Di antara wayang ciptaan Sunan Kalijaga bersama Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah wayang Punakawan Pandawa yang terdiri dari : Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

Hasil budaya sebagai media dakwah, bisa dijelaskan?
Dakwah merupakan bagian yang  sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, bahkan tidak berlebihan apabila kita katakan bahwa tidak sempurna seseorang itu muslim, apabila dia menghindari tanggung jawabnya sebagai seorang juru dakwah. Dalam berdakwah, seringkali langkah yang ditempuh tidak mulus, akan tetapi banyak mengalami hambatan dan rintangan selalu menyertai usaha berdakwah. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan ataupun ganjalan yang akan muncul, maka diperlukan siasat cermat dan strategi jituharus segera diambil.  Untuk menunjang dalam mencapai sukses atau keberhasilan dakwah, perlu diusahakan usaha-usaha yang  tepat dan konkrit, baik dalam bentuk metode atau alat yang akan dipakai untuk berdakwah. Salah satu usaha.

Mengapa Sunan Kalijaga menggunakan media Wayang Kulit?
Sebagaimana kita ketahui wayang bagi masyarakat Jawa tidak hanya sekedar hiburan, tetapi  juga merupakan alat komunikasi yang mampu menghubungkan kehendak dalang lewat alur cerita, sehingga dapat menginformasikan pendidikan dan penerangan. Hal inilah mengapa wayang kulit dapat digunakan sebagai media Pengembangan Agama Islam (dakwah Islamiyah).

Oleh karena wayang  dapat memberikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan segala masalahnya. Dalam dunia pewayangan tersimpan nilai-nilai pandangan hidup Jawa dalam  menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan kesulitan hidup. Wayang sebagai titik temu nilai budaya Jawa dan Islam adalah suatu momentum yang sangat berharga bagi perkembangan khasanah budaya  Jawa. (Red)